Labels:

hukum tahlilan dan yasinan (makalah)


SEKILAS YASINAN DAN TAHLILAN
Tahlilan secara etimologi merupakan bentuk masdar dari kata هَلَّل1يُهَلِّلُتَهْلِيْلاً yang artinya mengucapkan lafal  لاَ إلهَ إلاّ اللهُ. Sedangkan secara terminologi adalah acara ritual (seremonial) memperingati hari kematian yang biasa dilakukan oleh umumnya masyarakat Indonesia. Acara tersebut diselenggarakan ketika salah seorang anggota keluarga telah meninggal dunia. Secara bersama-sama setelah proses penguburan selesai dilakukan. Seluruh keluarga, handai taulan serta masyarakat sekitar berkumpul di rumah keluarga si mayit hendak menyelenggarakan acara pembacaan ayat al-Qur’an, dzikir dan do’a-do’a yang ditujukan untuk si mayit di alam “sana”. Karena dari sekian materi bacaannya terdapat kalimat tahlil (لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ) yang diulang-ulang ratusan kali maka acara tersebut biasa dikenal dengan istilah “tahlilan”.

Kata yasinan dan tahlilan seakan telah mendarah daging dihati masyarakat luas, terutama ditanah air kita Indonesia. Secara umum dapat dipahami bahwa dua kata tersebut biasanya berkaitan dengan peristiwa kematian. Yang mana dua kata ini diungkapkan dalam bentuk suatu acara peringatan terhadap kematian. Acara yang diadakan oleh ahli mayit ini dihadiri oleh para kerabat, para tetangga, masyarakat sekitar dan terkadang dengan mengundang beberapa orang jauh yang dianggap penting bagi ahli mayit. Bahkan tidak jarang mendatangkan kyai dan sesepuh yang dianggap berpengaruh didaerah tersebut. Hanya saja dibeberapa tempat ada yang dibedakan/ disendirikan antara yasinan yang biasanya diadakan pada malam jum’at dengan tahlilan yang dikaitkan dengan hitungan perhari dari kematian atau kadang disatukan dua acara tersebut dalam satu acara. Dimulai dengan pujian, surat yasin atau surat-surat yang lain, dzikir-dzikir serta doa-doa yang ditujukan untuk si mayit dialam kubur. Sampai diakhiri dengan hidangan aneka makanan yang lebih dari ala kadarnya, biasanya ditambah lagi dengan buah tangan (berkat) untuk dibawa pulang.
                Dinamai yasinan karena diantara bacaannya adalah surat yasin yang menurut mereka ada berbagai keutamaan lebih dibanding surat-surat yang lain dan dinamai tahlilan karena termasuk yang dibaca diantara dzikir-dzikirnya adalah kalimat “la ilaha illalloh”. Sudah menjadi keladziman kalau setiap ada yasinan dan tahlilan pasti ada aneka hidangan makanan yang biasanya lebih dari sekedarnya. Padahal Nabi Muhammad SAW menganjurkan supaya para tetangga memberi atau menyediakan makanan kepada keluarga si mayit. Para tengga dan Sanak famili supaya datang ikut bela sungkawa dengan membawa sesuatu untuk menyegerakan si mayit.
Sebagaimana Sabda Nabi SAW : Artinya : Dari Abdullah bin Ja’far berkata : “…Tatkala datang berita terbunuhnya Ja’far, Nabi SAW bersabda : Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far. Sesungguhnya mereka tengah ditimpa musibah yang menyibukkan mereka” (HR. Abu Dawud, Tirmnidzi, Ibnu Majah)


Jadi yang menyediakan makanan adalah tetangga untuk keluarga si mayit, bukan yang terkena musibah menyediakan makanan buat orang yang datang. Dan hadits lain menjelaskan bahwa menyediakan atau menghidangkan makanan dalam upacara kematian adalah termasuk meratap yang dilarang oleh Agama, sebagaimana sabda Rasulullah SAW
Artinya : “Dari Jarir al-Balaji berkata : Adalah kami (shahabat-shahabat nabi SAW) menganggap berkumpul-berkumpul ke rumah ahli mayat dan membikin makanan sesudah ditanamnya itu (termasuk) meratap”. (HR. Ibnu Majah)
Dan acara yang banyak dijumpai di pedesaan ternyata dijumpai juga di daerah perkotaan. Hanya saja kalau didaerah perkotaan biasanya acara ini berlangsung agak ringkas, dan aneka makanannya dihidangkan lebih praktis yaitu dengan cara membagi nasi kotak plus minuman didalamnya atau semisalnya. Acara ini tidak hanya sekali saja diadakan, bahkan biasanya akan diadakan dari hari pertama dan atau diteruskan sampai hari ketiga atau ketujuh dari hari kematian. Acara ini asal-usulnya adalah nenek moyang yang sudah berabad-abad lamanya dan entah siapa pencetusnya, yang jelas acara ini dimaksudkan untuk mengirimkan pahala bacaan-bacaan khusus buat mayit. Acara ini telah menjadi satu keharusan yang memberatkan dan terpaksa harus diadakan oleh ahli mayit. Sehingga sulit untuk dihindarkan, apalagi dihapuskan. Bahkan tidak jarang diantara mereka harus menghutang kesana-kemari demi hanya untuk mengadakan acara tersebut. Karena ternyata menurut pengakuan mereka yang telah meninggalkan acara yang memberatkan ini, alasan yang paling kuat mengapa mereka harus mengadakannya adalah takut diasingkan, dianggap melawan adat dan tidak bermasyarakat kalau tidak menyelenggarakan acara itu.  
                Tidak hanya cukup disitu, bahkan beberapa orang yang gemar mendatangi acara ini tidak segan-segan mengatakan ini adalah sunnah rasul yang seyogyanya terus dilestarikan, baik dengan menyitir hadist-hadist Nabi (padahal hadistnya lemah dan palsu) atau menafsirkan hadist-hadist dengan penafsiran yang jauh dari kebenaran, atau sekedar mengutip fatwa-fatwa guru mereka.








ASAL USUL TAHLILAN
Sebelum Islam masuk ke Indonesia, telah ada berbagai kepercayaan yang di anut oleh sebagian besar penduduk tanah air ini, di antara keyakinan-keyakinan yang mendominasi saat itu adalah animisme dan dinamisme. Di antara mereka meyakini bahwa arwah yang telah dicabut dari jasadnya akan gentayangan di sekitar rumah selam tujuh hari, kemudian setelahnya akan meninggalkan tempat tersebut dan akan kembali pada hari ke empat puluh, hari keseratus dan hari keseribunya atau mereka mereka meyakini bahwa arwah akan datang setiap tanggal dan bulan dimana dia meninggal ia akan kembali ke tempat tersebut, dan keyakinan seperti ini masih melekat kuat di hati kalangan awan di tanah air ini sampai hari ini.
Sehingga masyarakat pada saat itu ketakutan akan gangguan arwah tersebut dan membacakan mantra-mantra sesuai keyakinan mereka. Setelah Islam mulai masuk di bawa oleh para Ulama’ yang berdagang ke tanah air ini, mereka memandang bahwa ini adalah suatu kebiasaan yang menyelisihi syari’at Islam, lalu mereka berusaha menghapusnya dengan perlahan, dengan cara memasukkan bacaan-bacaan berupa kalimat-kalimat thoyyibah sebagai pengganti mantra-mantra yang tidak dibenarkan menurut ajaran Islam dengan harapan supaya mereka bisa berubah sedikit dan mininggalkan acara tersebaut menuju ajaran Islam yang murni. Akan tetapi sebelum tujuan akhir ini terwujud, dan acara pembacaan kalimat-kalimat thoyibah ini sudah menggantikan bacaan mantra-mantra yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, para Ulama’ yang bertujuan baik ini meninggal dunia, sehingga datanglah generasi selanjutnya yang mereka ini tidak mengetahui tujuan generasi awal yang telah mengadakan acara tersebut dengan maksud untuk meninggalkan secara perlahan. Perkembangan selanjutnya datanglah generasi setelah mereka dan demikian selanjutnya, kemudian pembacaan kalimat-kalimat thoyibah ini mengalami banyak perubahan baik penambahan atau pengurangan dari generasi ke generasi, sehingga kita jumpai acara tahlilan di suatu daerah berbeda dengan prosesi tahlilan di tempat lain sampai hari ini.
Perintis, pelopor dan pembuka pertama penyiaran serta pengembangan Islam di pulau Jawa adalah para ulama/mubaligh yang berjumlah sembilan, yang popular dengan sebuatan Wali Songo. Atas perjuangan mereka, berhasil mendirikan sebuah kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa yang berpusat di Demak, Jawa Tengah.
Para ulama yang sembilan dalam menyiarkan dan mengembangkan Islam di tanah Jawa yang mayoritas penduduknya beragama Hindu dan Budha mendapat kesulitan dalam membuang adat istiadat upacara keagamaan lama bagi mereka yang telah masuk Islam.
Para ulama yang sembilan (Wali Songo) dalam menanggulangi masalah adat istiadat lama bagi mereka yang telah masuk Islam terbagi menjadi dua aliran yaitu ALIRAN GIRI dan ALIRAN TUBAN. Aliran Giri adalah suatu aliran yang dipimpin oleh Raden Paku (Sunan Giri) dengan para pendukung Raden Rahmat (Sunan Ampel), Syarifuddin (Sunan Drajat) dan lain-lain. Aliran ini dalam masalah ibadah sama sekali tidak mengenal kompromi dengan ajaran Budha, Hindu, keyakinan Animisme dan Dinamisme. Orang yang dengan suka rela masuk Islam lewat aliran ini, harus mau membuang jauh-jauh segala adat istiadat lama yang bertentangan dengan syari’at Islam tanpa reseve. Karena murninya aliran dalam menyiarkan dan mengembangkan Islam, maka aliran ini disebut ISLAM PUTIH.
Adapun aliran Tuban adalah suatu aliran yang dipimpin oleh R.M. Syahid (Sunan Kalijaga) yang didukung oleh Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Djati. Aliran ini sangat moderat, mereka membiarkan dahulu terhadap pengikutnya yang mengerjakan adat istiadat upacara keagamaan lama yang sudah mendarah daging sulit dibuang, yang penting mereka mau memeluk Islam.Agar mereka jangan terlalu jauh menyimpang dari Syari’at Islam.Maka para wali aliran Tuban berusaha adat istiadat Budha, Hindu, Animisme dan Dinamisme diwarnai keislaman.Karena moderatnya aliran ini maka pengikutnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan pengikut aliran Giri yang radikal. Aliran ini sangat disorot oleh aliran Giri karena dituduh mencampur adukan Syari’at Islam dengan agama lain. Maka aliran ini dicap sebagai aliran Islam Abangan.
Dengan ajaran agama Hindu yang terdapat dalam kitab Brahmana. Sebuah kitab yang isinya mengatur tata cara pelaksanaan kurban, sajian-sajian untuk menyembah dewa-dewa dan upacara menghormati roh-roh untuk menghormati orang yang telah mati (nenek moyang) ada aturan yang disebut Yajna besar dan Yajna kecil.
Yajna besar dibagi menjadi dua bagian yaitu Hafiryayajna dan Somayajna. Somayajna adalah upacara khusus untuk orang-orang tertentu.Adapun Hafiryayajna untuk semua orang. Hafiryayajna terbagi menjadi empat bagian yaitu : Aghnidheya, Pinda Pitre Yajna, Catur masya, dan Aghrain. Dari empat macam tersebut ada satu yang sangat berat dibuang sampai sekarang bagi orang yang sudah masuk Islam adalah upacara Pinda Pitre Yajna yaitu suatu upacara menghormati roh-roh orang yang sudah mati.
Dalam upacara Pinda Pitre Yajna, ada suatu keyakinan bahwa manusia setelah mati, sebelum memasuki karman, yakni menjelma lahir kembali ke dunia ada yang menjadi dewa, manusia, binatang dan bahkan menjelma menjadi batu, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain sesuai dengan amal perbuatannya selama hidup, dari 1-7 hari roh tersebut masih berada dilingkungan rumah keluarganya. Pada hari ke 40, 100, 1000 dari kematiannya, roh tersebut datang lagi ke rumah keluarganya.Maka dari itu, pada hari-hari tersebut harus diadakan upacara saji-sajian dan bacaan mantera-mantera serta nyanyian suci untuk memohon kepada dewa-dewa agar rohnya si pulan menjalani karma menjadi manusia yang baik, jangan menjadi yang lainnya.

Pelaksanaan upacara tersebut diawali dengan Aghnideya, yaitu menyalakan api suci (membakar kemenyan) untuk kontak dengan para dewa dan roh si pulan yang dituju. Selanjutnya diteruskan dengan menghidangkan saji-sajian berupa makanan, minuman dan lain-lain untuk dipersembahkan ke para dewa, kemudian dilanjutkan dengan bacaan mantra-mantra dan nyanyian-nyanyian suci oleh para pendeta agar permohonannya dikabulkan.
Pada masa para wali di bawah pimpinan Sunan Ampel, pernah diadakan musyawarah antara para wali untuk memecahkan adat istiadat lama bagi orang yang telah masuk Islam. Dalam musyawarah tersebut Sunan Kali Jaga selaku Ketua aliran Tuban mengusulkan kepada majlis musyawarah agar adat istiadat lama yang sulit dibuang, termasuk didalamnya upacara Pinda Pitre Yajna dimasuki unsur keislaman.
Usulan tersebut menjadi masalah yang serius pada waktu itu sebab para ulama (wali) tahu benar bahwa upacara kematian adat lama dan lain-lainnya sangat menyimpang dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Mendengar usulan Sunan Kali Jaga yang penuh diplomatis itu, Sunan Ampel selaku penghulu para wali pada waktu itu dan sekaligus menjadi ketua sidang/musyawarah mengajukan pertanyaan sebagai berikut :

Apakah tidak dikhawatirkan di kemudian hari, bahwa adat istiadat lama itu nanti akan dianggap sebagai ajaran Islam, sehingga kalau demikian nanti apakah hal ini tidak akan menjadikan bid’ah”.
Pertanyaan Sunan Ampel tersebut kemudian dijawab oleh Sunan Kudus sebagai berikut : “Saya sangat setuju dengan pendapat Sunan Kali Jaga”.

Sekalipun Sunan Ampel, Sunan Giri, dan Sunan Drajat sangat tidak menyetujui, akan tetapi mayoritas anggota musyawarah menyetujui usulan Sunan Kali Jaga, maka hal tersebut berjalan sesuai dengan keinginannya. Mulai saat itulah secara resmi berdasarkan hasil musyawarah, upacara dalam agama Hindu yang bernama Pinda Pitre Yajna dilestarikan oleh orang-orang Islam aliran Tuban yang kemudian dikenal dengan nama nelung dina, mitung dina, matang puluh, nyatus, dan nyewu.
Dari akibat lunaknya aliran Tuban, maka bukan saja upacara seperti itu yang berkembang subur, akan tetapi keyakinan animisme dan dinamisme serta upacara-upacara adat lain ikut berkembang subur. Maka dari itu tidaklah heran muridnya Sunan Kali Jaga sendiri yang bernama Syekh Siti Jenar merasa mendapat peluang yang sangat leluasa untuk mensinkritismekan ajaran Hindu dalam Islam.Dari hasil olahannya, maka lahir suatu ajaran kleni / aliran kepercayaan yang berbau Islam. Dan tumbuhlah apa yang disebut “Manunggaling Kaula Gusti” yang artinya Tuhan menyatu dengan tubuhku. Maka tatacara untuk mendekatkan diri kepada Allah lewat shalat, puasa, zakat, haji dan lain sebagainya tidak usah dilakukan.
Sekalipun Syekh Siti Jenar berhasil dibunuh, akan tetapi murid-muridnya yang cukup banyak sudah menyebar dimana-mana. Dari itu maka kepercayaan seperti itu hidup subur sampai sekarang.

Keadaan umat Islam setelah para wali meninggal dunia semakin jauh dari ajaran Islam yang sebenarnya. para Ulama aliran Giri yang terus mempengaruhi para raja Islam khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk menegakkan syari’at Islam yang murni mendapat kecaman dan ancaman dari para raja Islam pada waktu itu, karena raja-raja Islam mayoritas menganut aliran Tuban. Sehingga pusat pemerintahan kerajaan di Demak berusaha dipindahkan ke Pajang agar terlepas dari pengaruh para ulama aliran Giri.
Pada masa kerajaan Islam di Jawa, dibawah pimpinan raja Amangkurat I, para ulama yang berusaha mempengaruhi keraton dan masyarakat, mereka ditangkapi dan dibunuh/dibrondong di lapangan Surakarta sebanyak 7.000 orang ulama. Melihat tindakan yang sewenang-wenang terhadap ulama aliran Giri itu, maka Trunojoyo Santri Giri berusaha menyusun kekuatan untuk menyerang Amangkurat I. Pada masa kerajaan dipegang oleh Amangkurat II sebagai pengganti ayahnya, ia membalas dendam terhadap Truno Joyo yang menyerang pemerintahan ayahnya. Ia bekerja sama dengan VOC menyerang Giri Kedaton dan semua upala serta santri aliran Giri dibunuh habis-habisan, bahkan semua keturunan Sunan Giri dibunuh pula. Dengan demikian lenyaplah sudah ulama-ulama penegak Islam yang konsekwen. Ulama-ulama yang boleh hidup dimasa itu adalah ulama-ulama yang lunak (moderat) yang mau menyesuaikan diri dengan keadaan masyarakat yang ada.maka bertambah suburlah adat-istiadat lama yang melekat pada orang-orang Islam, terutama upacara adat Pinde Pitre Yajna dalam upacara kematian. Keadaan yang demikian terus berjalan berabad-abad tanpa ada seorang ulamapun yang muncul untuk mengikis habis adat-istiadat lama yang melekat pada Islam terutama Pinda Pitre Yajna. Baru pada tahun 1912 M, muncul seorang ulama di Yogyakarta bernama K.H. Ahmad Dahlan yang berusaha sekuat kemampuannya untuk mengembalikan Islam dari sumbernya yaitu Al Qur’an dan As Sunnah, karena beliau telah memandang bahwa Islam dalam masyrakat Indonesia telah banyak dicampuri berbagai ajaran yang tidak berasal dari Al Qur’an dan Al Hadits, dimana-mana merajalela perbuatan khurafat dan bid’ah sehingga umat Islam hidup dalam keadaan konservatif dan tradisional.

Munculnya K.H. Ahmad Dahlan bukan saja berusaha mengikis habis segala adat istiadat Budha, Hindu, animisme, dinamisme yang melekat pada Islam, akan tetapi juga menyebarkan fikiran-fikiran pembaharuan dalam Islam, agar umat Islam menjadi umat yang maju seperti umat-umat lain. Akan tetapi aneh bin ajaib, kemunculan beliau tersebut disambut negatif oleh sebagian ulama itu sendiri, yang ternyata ulama-ulama tersebut adalah ulama-ulama yang tidak setuju untuk membuang beberapa adat istiadat Budha dan Hindu yang telah diwarnai keislaman yang telah dilestarikan oleh ulama-ulama aliran Tuban dahulu, yang antara lain upacara Pinda Pitre Yajna yang diisi nafas Islam, yang terkenal dengan nama upacara nelung dina, mitung dina, matang dina, nyatus, dan nyewu. Pada tahun 1926 para ulama Indonesia bangkit dengan didirikannya organisasi yang diberi nama “Nahdhotul Ulama” yang disingkat NU. Pada muktamarnya di Makasar NU mengeluarkan suatu keputusan yang antara lain : “Setiap acara yang bersifat keagamaan harus diawali dengan bacaan tahlil yang sistimatikanya seperti yang kita kenal sekarang di masyarakat”. Keputusan ini nampaknya benar-benar dilaksanakan oleh orang NU. Sehingga semua acara yang bersifat keagamaan diawali dengan bacaan tahlil, termasuk acara kematian. Mulai saat itulah secara lambat laun upacara Pinda Pitre Yajna yang diwarnai keislaman berubah nama menjadi tahlilan sampai sekarang. Sesuai dengan sejarah lahirnya tahlilan dalam upacara kematian, maka istilah tahlilan dalam upacara kemagian hanya dikenal di Jawa saja.Di pulau-pulau lain seluruh Indonesia tidak ada acara ini.Seandainya ada pun hanya sebagai rembesan dari pulau Jawa saja. Apalagi di negara-negara lain seperti Arab, Mesir, dan negara-negara lainnnya diseluruh dunia sama sekali tidak mengenal upacara tahlilan dalam kematian ini.

Dalil yang Menganjurkan Tahlilan

   §   Dalil naqli

Orang yang membolehkan ritual Tahlilan, mereka mempunyai dalil-dalil yang menurut mereka bisa dipertanggung-jawabkan. Dalil tersebut meliputi dalil naqli dan dalil aqli. Adapun dalil naqli yang mereka kemukakan adalah dalil yang diambil dari kitab Hasyiyah ‘ala Maraqy al-Falah karangan Ahmad ibn Ismail at-Thahawy, yaitu (yang artinya) :

Dimakruhkannya hukum penghidangan makanan kepada keluarga mayit bertentangan dengan keterangan yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad yang Shahih dari Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari laki-laki Anshar ia berkata,

خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ الله صمفِي جَنَازَةٍ فَرَاَيْتُ رسُوْلَ الله صموَهُوَ عَلَى الْقَبْرِ يُوْصَي الْحَافِرُ أَوْسَعَ مِنْ قَبْلِ رِجْلَيْهِ أَوْسَعَ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ فَلَمَّا رَجَعَ اسْتَقْبَلَهُ دَاعِيَّ امْرَأَته فَجَاءَ بِالطَّعَامِ فَوَضَعَ يَدَاهُ ...إخ

Artinya :
Kami bersama Rasulullah keluar menuju pemakaman jenazah sewaktu hendak pulang muncullah istrinya mayit mengundang untuk singgah, kemudian menghidangkan makanan, Rasulullah pun mengambil makanan tersebut, kemdian para sahabat pun turut mengambilnya pula dan mencicipinya, pada mulut Rasulullah terdapat sekerat daging”.

Hadits tersebut oleh sebagian kalangan digunakan sebagai pembenaran perbuatan mengadakan acara Tahlilan dengan argumen keluarga si mayit menghidangkan makanan kemudian mengundang masyarakat terhadap hidangan tersebut.

§   Dalil ‘aqliy
Sedangkan alasan dalil ‘aqliy yang mereka kemukakan adalah melaui argumen al-Istihsân (mengangap sesuatu itu baik berdasarkan logika), meliputi:
1.       Bacaan ayat-ayat al-Qur’an, dzikir-dzikir dan do’a-do’a yang bernilai ibadah
2.       Nilai-nilai shadaqah (ibadah) melalui pembagian makanan, sekaligus sebagai ritual kirim do’a bagi si mayit
3.       Silaturahmi (ibadah)

Ø  Sanggahan

   §   Sanggahan terhadap dalil naqliy

Ahmad Ibn Isma’il at-Thahawy menyitir dalil naqliy yang dilansir dari Sunan Abu Dawud dan musnad Imam Ahmad, namun apabila kita bandingkan dengan kitab aslinya (Sunan Abu Dawud dan Musnad Imam Ahmad) ternyata di dalamnya terdapat perbdedaan yang sangat signifikan yang dapat merubah makna hadits tersebut, yaitu:

خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ الله صمفِي جَنَازَةٍ فَرَاَيْتُ رسُوْلَ الله صموَهُوَ عَلَى الْقَبْرِ يُوْصَي الْحَافِرُ أَوْسَعَ مِنْ قَبْلِ رِجْلَيْهِ أَوْسَعَ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ فَلَمَّا رَجَعَ اسْتَقْبَلَهُ دَاعِيَّ امْرَأةٌ فَجَاءَ بِالطَّعَامِ فَوَضَعَ يَدَاهُ ...إخ


Di dalam nukilan Ahmad ibn Isma’il at-Thahawy, ia menambahkandhamir mudzakar ghaib (hu/ه) di belakang kata (امْرَأةٌ), yang mengandung arti “istrinya si mayit”, sedangkan dalam kitab aslinya (Sunan Abu Dawud dan Musnad Imam Ahmad) tanpa menggunakan dhamir mudzakar ghaib (hu/ه), sehingga maknanya menjadi “seorang wanita”.
Sisi pentingnya ketika menggunakan dhamir mudzakar ghaib (hu/ه), maka berarti wanita yang memanggil Rasulullah dan para sahabat sepulang dari penggunaan jenazah kemudian menghidangkan makanan yang dicicpi oleh Rasulullah beserta para sahabatnya adalah istrinya si mayit (keluarga mayit). Hal ini berarti mengandung pengertian taqrir (penetapan) dari Rasulullah, artinya penghidangan makanan oleh keluarga si mayit itu menjadi dianjurkan, kemudian implikasi hukumnya acara ritual tahilan merupakan bagian dari sunnah Rasulullah. Akan tetapi lain halnya apabila dhamir mudzakar ghaib tadi (hu/ه) tidak dicantumkan maka pengertiainnya adalah wanita tersebut bukan istri atau keluarganya dan sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan si mayit tersebut (bukan keluarga si mayit). Bahkan di dalam hadit yang dikeluarkan Imam Ahmad bin Hambal dinyatakan dengan jelas bahwa wanita tersebut adalah wanita quraisy yang hadir dalam pemakaman.
Dengan ini jelaslah sudah bahwa hidangan yang dicicipi oleh Rasulullah beserta sahabatnya adalah hidangan yang disajikan bukan dari keluarga si mayit, akan tetapi berasal dari pihak lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga si mayit. Apabila demikian, maka sejatinya hadits tersebut tidak ada hubungannya dengan acara ritual tahlilan. Sebagai konsekwensinya batallah argumen yang menerima acara ritual tersebut.







§  Bantahan terhadap dalil aqliy

Ini adalah alasan mereka yang paling umum dan sering digunakan bahwa mereka menganggap bahwa seluruh apa yang ada di dalam ritual itu adalah baik dan bermanfaat, seperti membaca al-Qur’an, tahlil, silaturahmi, dll. Mereka berpandangan bahwa melakukan ibadah-ibadah itu di dalam ritual tersebut adalah suatu perbuatan baik (mereka menganggap baik) dengan kata lain mereka menggunakan nalar al-Istihsan yang diterapkan dalam ritual itu. Pertanyaannya adalah, tepatkah asumsi tersebut?
Nalar-nalar yang dibangun dalam koridor Ushul Fiqih memang sangat rawan untuk dipelintir oleh orang-orang yang mencari pembenaran atas tindakan-tindakan yang mereka lakukan. Hal ini dikarenakan Ushul Fiqih adalah sebuah dunia ilmu yang sarat dengan eksploitasi akal manusia yang pada dasarnya digunakan untuk menggali kandungan al-Qur’an dan al-Hadits, yang seharusnya akal tersebut harus didampingi oleh kendali dan rambu-rambu yang jelas agar penggunaannya tidak melenceng dan melampaui batas melebihi dua sumber hukum primer tersebut.
Lalu bagaimana jadinya kalau akal itu tidak dikendalikan dan dibiarkan lepas begitu saja? Yang terjadi adalah penyelewengan kaidah-kaidah yang terdapat di dalamnya sebagai upaya mencari pembenaran atas apa yang diperbuat dan dikehendaki oleh akal.














Tahlilan Dalam Kaca Mata Islam
Acara tahlilan paling tidak  terfokus pada dua acara yang paling penting yaitu:
Pertama:  Pembacaan beberapa ayat/ surat Al Qur’an, dzikir-dzikir dan disertai dengan do’a-do’a tertentu yang ditujukan dan dihadiahkan kepada si mayit.
Kedua:  Penyajian hidangan makanan.
Dua hal di atas perlu ditinjau kembali dalam kaca mata Islam, walaupun secara historis acara tahlilan bukan berasal dari ajaran Islam. Pada dasarnya, pihak yang membolehkan acara tahlilan, mereka tiada memiliki argumentasi (dalih) melainkan satu dalih saja yaitu istihsan (menganggap baiknya suatu amalan) dengan dalil-dalil yang umum sifatnya. Mereka berdalil dengan keumuman ayat atau hadits yang menganjurkan untuk membaca Al Qur’an, berdzikir ataupun berdoa dan menganjurkan pula untuk memuliakan tamu dengan menyajikan hidangan dengan niatan shadaqah.
Bacaan Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan do’a-do’a yang ditujukan/ dihadiahkan kepada si mayit.
Memang benar Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menganjurkan untuk membaca Al Qur’an, berdzikir dan berdoa. Namun apakah pelaksanaan membaca Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan do’a-do’a diatur sesuai kehendak pribadi dengan menentukan cara, waktu dan jumlah tertentu (yang diistilahkan dengan acara tahlilan) tanpa merujuk praktek dari Rasulullah SAW dan para sahabatnya bisa dibenarkan. Kesempurnaan agama Islam merupakan kesepakatan umat Islam semuanya, karena memang telah dinyatakan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):
Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama Islam bagi kalian, dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian serta Aku ridha Islam menjadi agama kalian.” (Al Maidah: 3)
Juga Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ
Tidak ada suatu perkara yang dapat mendekatkan kepada Al Jannah (surga) dan menjauhkan dari An Naar (neraka) kecuali telah dijelaskan kepada kalian semuanya.” (H.R Ath Thabrani)
Ayat dan hadits di atas menjelaskan suatu landasan yang agung yaitu bahwa Islam telah sempurna, tidak butuh ditambah dan dikurangi lagi. Tidak ada suatu ibadah, baik perkataan maupun perbuatan melainkan semuanya telah dijelaskan oleh Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam.
Suatu ketika Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam mendengar berita tentang pernyataan tiga orang, yang pertama menyatakan: “Saya akan shalat tahajjud dan tidak akan tidur malam”, yang kedua menyatakan: “Saya akan bershaum (puasa) dan tidak akan berbuka”, yang terakhir menyatakan: “Saya tidak akan menikah”, maka Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam menegur mereka, seraya berkata: “Apa urusan mereka dengan menyatakan seperti itu? Padahal saya bershaum dan saya pun berbuka, saya shalat dan saya pula tidur, dan saya menikahi wanita. Barang siapa yang membenci sunnahku maka bukanlah golonganku.” (Muttafaqun alaihi)
Ibadah menurut kaidah Islam tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala kecuali bila memenuhi dua syarat yaitu ikhlas kepada Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam. Allah subhanahu wata’ala menyatakan dalam Al Qur’an (artinya):
Dialah Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji siapa diantara kalian yang paling baik amalnya.” (Al Mulk: 2)
Para ulama ahli tafsir menjelaskan makna “yang paling baik amalnya” ialah yang paling ikhlash dan yang paling mencocoki sunnah Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam.
Tidak ada seorang pun yang menyatakan shalat itu jelek atau shaum (puasa) itu jelek, bahkan keduanya merupakan ibadah mulia bila dikerjakan sesuai tuntunan sunnah Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam.
Atas dasar ini, beramal dengan dalih niat baik (istihsan) semata -seperti peristiwa tiga orang didalam hadits tersebut- tanpa mencocoki sunnah Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam, maka amalan tersebut tertolak. Simaklah firman Allah subhanahu wata’ala (artinya): “Maukah Kami beritahukan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya”. (Al Kahfi: 103-104)

Lebih ditegaskan lagi dalam hadits ‘Aisyah radhiAllahu ‘anha, Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Barang siapa yang beramal  bukan diatas petunjuk kami, maka amalan tersebut tertolak.” (Muttafaqun alaihi, dari lafazh Muslim)
Atas dasar ini pula lahirlah sebuah kaidah ushul fiqh yang berbunyi:
فَالأَصْلُ فَي الْعِبَادَاتِ البُطْلاَنُ حَتَّى يَقُوْمَ دَلِيْلٌ عَلَى الأَمْرِ
Hukum asal dari suatu ibadah adalah batal, hingga terdapat dalil (argumen) yang memerintahkannya.”
Maka beribadah dengan dalil istihsan semata tidaklah dibenarkan dalam agama. Karena tidaklah suatu perkara itu teranggap baik melainkan bila Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menganggapnya baik dan tidaklah suatu perkara itu teranggap jelek melainkan bila Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menganggapnya jelek. Lebih menukik lagi pernyataan dari Al Imam Asy Syafi’I:
مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ
Barang siapa yang menganggap baik suatu amalan (padahal tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah –pent) berarti dirinya telah menciptakan hukum syara’ (syari’at) sendiri”.
Kalau kita mau mengkaji lebih dalam madzhab Al Imam Asy Syafi’i tentang hukum bacaan Al Qur’an yang dihadiahkan kepada si mayit, beliau diantara ulama yang menyatakan bahwa pahala bacaan Al Qur’an tidak akan sampai kepada si mayit. Beliau berdalil dengan firman Allah subhanahu wata’ala (artinya):
Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh (pahala) selain apa yang telah diusahakannya”. (An Najm: 39), (Lihat tafsir Ibnu Katsir 4/329).




Penyajian hidangan makanan.
Memang secara sepintas pula, penyajian hidangan untuk para tamu merupakan perkara yang terpuji bahkan dianjurkan sekali didalam agama Islam. Namun manakala penyajian hidangan tersebut dilakukan oleh keluarga si mayit baik untuk sajian tamu undangan tahlilan ataupun yang lainnya, maka memiliki hukum tersendiri. Bukan hanya saja tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam bahkan perbuatan ini telah melanggar sunnah para sahabatnya radhiAllahu ‘anhum. Jarir bin Abdillah radhiAllahu ‘anhu–salah seorang sahabat Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam– berkata: “Kami menganggap/ memandang kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh keluarga mayit merupakan bagian dari niyahah (meratapi mayit).” (H.R Ahmad, Ibnu Majah dan lainnya)
Sehingga acara berkumpul di rumah keluarga mayit dan penjamuan hidangan dari keluarga mayit termasuk perbuatan yang dilarang oleh agama menurut pendapat para sahabat Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam dan para ulama salaf. Lihatlah bagaimana fatwa salah seorang ulama salaf yaitu Al Imam Asy Syafi’i dalam masalah ini. Kami sengaja menukilkan madzhab Al Imam Asy Syafi’i, karena mayoritas kaum muslimin di Indonesia mengaku bermadzhab Syafi’i. Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata dalam salah satu kitabnya yang terkenal yaitu ‘Al Um’ (1/248): “Aku membenci acara berkumpulnya orang (di rumah keluarga mayit –pent) meskipun tidak disertai dengan tangisan. Karena hal itu akan menambah kesedihan dan memberatkan urusan mereka.” (Lihat Ahkamul Jana-iz karya Asy Syaikh Al Albani hal. 211)
Al Imam An Nawawi seorang imam besar dari madzhab Asy Syafi’i setelah menyebutkan perkataan Asy Syafi’i diatas didalam kitabnya Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab 5/279 berkata: “Ini adalah lafadz baliau dalam kitab Al Um, dan inilah yang diikuti oleh murid-murid beliau. Adapun pengarang kitab Al Muhadzdzab (Asy Syirazi) dan lainnya berargumentasi dengan argumen lain yaitu bahwa perbuatan tersebut merupakan perkara yang diada-adakan dalam agama (bid’ah –pent).
Lalu apakah pantas acara tahlilan tersebut dinisbahkan kepada madzhab Al Imam Asy Syafi’i?
Malah yang semestinya, disunnahkan bagi tetangga keluarga mayit yang menghidangkan makanan untuk keluarga mayit, supaya meringankan beban yang mereka alami. Sebagaimana bimbingan Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam dalam hadistnya:

اصْنَعُوا لآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا فَقَدْ أَتَاهُمْ أَمْرٌ يُشْغِلُهُمْ
Hidangkanlah makanan buat keluarga Ja’far, Karena telah datang perkara (kematian-pent) yang menyibukkan mereka.” (H.R Abu Dawud, At Tirmidzi dan lainnya)
Mudah-mudahan pembahasan ini bisa memberikan penerangan bagi semua yang menginginkan kebenaran di tengah gelapnya permasalahan. Wallahu ‘a’lam.

KESIMPULAN
HUKUM TAHLILAN ADALAH HARAM DAN TERMASUK BID’AH




0 comments:

Post a Comment